Setelah membereskan perlengkapan free-camping saya, saya segera menunggu bis di halaman stasiun kereta ini yang nanti akan menurunkan saya di perempatan besar Highway menuju Urumqi.
Sekarang ini saya berencana untuk hitchhiking dari Turpan menuju Urumqi yang berjarak 195km dan saya mempunyai 5 hari untuk melakukannya. jadi ini merupakan hitchhiking yang santai dan saya punya banyak waktu untuk melakukannya. Saya akan membaginya menjadi 2 sesi, yang pertama adalah dari Turpan menuju danau Chaiwobao yang berjarak 141km, menghabiskan satu hari disana dan 4 hari berjalan kaki dari danau Chaiwobao ke Urumqi sambil menikmati landscape indah dari pegunungan Xinjiang Tianshan yang menyuguhkan gunung es, gunung berbatu dan padang pasir, salah satu pegunungan terbesar di dunia seluas 606.000 hektar.
Setelah menunggu hampir 2 jam dan 2x berganti tempat, akhirnya seorang Uighur, salah satu suku minoritas di China mengangkut saya ke dalam Skuda, mobilnya. Dia bernama Emin, seorang keluarga Uighur yang tinggal di Urumqi, seorang pebisnis elektronik dan pengekspor raisin atau kismis. Dia sangat senang begitu mengetahui bahwa saya seorang Indonesia, karena dia selalu beranggapan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk Islam terbanyak. Dia selalu berkata bahwa saya adalah musafir dan dia adalah tuan rumah, jadi ini menjadi kewajiban bagi dirinya untuk membantu setiap musafir didalam perjalanannya. Saya pun bercerita tentang rencana saya untuk pergi ke Bishkek bulan depan dan rencana saya ke danau Chaiwobao, setelah mendengar cerita tersebut, dia segera menelpon temannya di Malaysia, seorang ahli agama Islam yang lahir sebagai seorang Uighur yang sekarang mengajar di Kuala Lumpur, menceritakan bahwa dia sedang menerima tamu dari Indonesia. Tidak puas di situ, dia segera menelpon temannya lagi di Bishkek untuk menjemput saya dan mengantar saya ke tempat tujuan saya nanti ketika saya sampai di Bishkek.
Banyak pendapat dari teman-teman saya untuk selalu berhati-hati dengan masyarakat Uighur, entah karena kerusuhan di Urumqi 2009 lalu1 atau karena adanya beberapa ekstrimism2. Tapi semejak saya dari Xi'an, saya telah banyak mendapatkan keramahtamahan masyarakat Uighur dan Emin adalah salah satu bukti konkrit buat saya.
Emin menyarankan agar saya mampir ke danau Chaiwobao sembari dia menunggu saya lalu saya harus ikut dan datang ke rumahnya untuk bersantap, karena hari ini adalah Eid Mubarak atau Idul Adha. Saya cukup ragu dengan rencananya karena itu artinya saya harus menghabiskan 5 hari di Urumqi yang notabane adalah kota besar dan saya kehilangan moment untuk free camping di pegunungan Xinjiang Tianshan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti ide Emin karena dia mulai mencoba menelpon kembali temannya di Malaysia agar bisa membujuk saya untuk ikut dengannya.
Emin dan keluarganya tinggal di Selatan kota Urumqi, di salah satu komplek rumah susun yang banyak ditinggali masyarakat Uighur. Pada saat saya datang, tampak beberapa orang sedang memotong daging kambing kurban. Rumah Emin pun tidak besar, namun rumahnya indah karena dihiasi oleh karpet khas masyarakat Asia Tengah. Rumahnya hanya memiliki 4 kamar, 1 kamar mandi dan 1 ruang makan yang paling besar ukurannya bila dibandingkan dengan kamar lainnya. Disini biasanya Emin menjamu tamunya. di ruangan ini banyak sekali cemilan khas Xinjiang seperti berbagai jenis dry fruit dan banyak jenis kacang. Emin mempersilahkan saya mencicipinya sambil saya bermain dengan ketiga anaknya.
Anak pertamanya,Fatima, yang berumur 10 tahun membantu ibunya untuk mempersiapkan makanan buat saya. Akhirnya makanan kami pun tiba, pada saat makan, semua anaknya harus keluar ruangan, karena ayah mereka sedang menyambut tamu di ruangan ini. Menunya adalah nasi di nampan yang besar dan mampu untuk makan 4 orang dan 1 nampan besar yang berisi kambing dan sayurannya. Saya tidak tahu apa nama menu ini, namun sayurannya direbus dengan baik dan lembut dan rasanya seperti tongseng. Sudah hampir 1 bulan pola makan saya berubah dari segi waktu, kuantitas dan kualitas, jadi lauk sebanyak ini adalah kombinasi anugerah dan siksaan bagi diri saya.
Saya tahu bahwa ada beberapa kode etik didalam bersantap yang lazim di Asia Tengah, salah satunya adalah selalu sisakan makanan di piring yang menandakan bahwa si tuan rumah memberikan anda makanan yang lebih dari cukup. Setelah kami berdua hampir menghabiskan nasi yang cukup untuk 4x makan bagi saya ini, saya segera menyisihkan beberapa sendok nasi, Emin melihatnya dan memaksa saya untuk menghabiskannya. "ah, mungkin disini berbeda, mungkin menyisahkan makanan adalah hal yang mubazir, bagaimanapun ini adalah China." pikir saya, lalu saya segera menghabiskan nasi jatah saya. "Fatima!" kata Emin, dan Fatima segera mengambil nampan nasi kami yang kosong dan mengisinya kembali dengan nasi yang sama besar jumlahnya.
Saya berangkat ke China dengan gigi geraham tumbuh di ketiga tempat, saya naik pesawat dari CGK-BEI dengan meminum obat penghilang rasa sakit dahulu dan ketika di Beijing, mulut bagian bawah dibawah lidah mengalami sariawan yang besar karena tertusuk sikat gigi saya sendiri. Hampir seminggu lebih, saya tidak bisa membuka mulut dengan sempurna, semua makanan saya makan pelan-pelan dan sedikit-sedikit. Tapi sekarang di depan saya ada banyak potongan kambing yang empuk dan tuan rumah selalu mengisi mangkok nasi saya ketika mangkok tersebut mulai kosong. Lalu ketika saya sudah berhasil menghabiskan semua makanan ini, saya ingin mengambil tissue untuk membersihkan tangan saya, tetapi dilarang oleh Emin. Dia bilang, habiskan dahulu makanan saya.
Saya mencoba mengecek mangkok saya dan mencoba makan kembali sempilan-sempilan daging yang membuat gigi saya harus bekerja dengan keras, lalu saya menyadari bahwa selama masih ada makanan didalam mangkok, itu menandakan bahwa makanan belum selesai. Semua tulang kambing saya berada didalam mangkok saya dan tulang kambing Emin berada di meja. Tanda dengan dibaliknya sendok saya menjadi tidak ada artinya. Lalu saya membuang tulang-tulang ini ke meja dan Emin tersenyum. Tamu saya sudah selesai makan tampaknya.
Kami menyelesaikan makanan dengan menuangkan teh kami kedalam mangkok nasi dan mengaduknya, untuk membersihkan mangkok dari makanan sisa dan mengucapkan Alhamdullilah. Saya segera mengucapkan "Rahmat" yang artinya terima kasih dalam bahasa Uighur3.
Setelah makan saya diharusnya tiduran di bantal yang sudah tersedia, begitupun Emin, ini adalah metode ngobrol. Lalu kami berbincang banyak hal seperti pekerjaan dan kehidupan.
Saya pamit kepada Emin untuk pergi ke hostel yang sudah saya booking. Emin segera berganti pakaian dan ingin mengantar saya. Tentu saja saya menolak karena apa yang sudah diberikan Emin sudah lebih dari cukup. Tapi Emin bersikeras, lalu pergilah saya ke hostel saya dengan diantar Emin dengan mobil, dan sebagai keramahtamahan keluarga Uighur, istrinya dan keempat anaknya ikut mengantar saya.
Selamat Idul Adha dari Urumqi!.
Amat tilayman!
1. [Kerusuhan antara etnis Han dan Uighur yang menyebabkan lebih dari 190 etnis Han meninggal dunia]↩.
2. [4 warga etnis Uighur ditangkap di Poso, Sulawesi pada September 2009 karena mendukung gerakan ISIS Indonesia dan berafiliasi dengan kelompok radikal Santoso]↩.
3. [Etnologi bahasa Uighur adalah bahasa turunan dari bahasa Turk, sehingga mempunyai banyak kemiripan dengan bahasa Kyrgyzstan, Uzbekistan & Kazakhstan]↩.
